saatnya kita memimpin…..

Posted March 4, 2008 by hio
Categories: .: Kabar Gembira!

Kalu ndak salah 170 hari lagi akan ada pesta demokrasi di Propensi kita…

Siapa yang patut memimpin di era demoratis dan pada tataran masyarakan yang sudah terlanjur skeptis???

Cuwex… luweh… embohh…. ra reti… e-lah… gambaran kebanyakan masyarakat…. termasuk aku kali ya….?

Rasa skeptis pastilah akan berubah optimis ketika salah satu kita harus memimpin…

Pak Joko Prasetyo, SE.MM….. siapa yang ragu akan leader ship-nya dengan segudang berorganisasinya??

Dokter. Aji Prasetyo…. yang sampai sekarang belum “kaya” <masih sederhana> karena tidak begitu tega untuk “menggorok” pasiennya ..

Dodik Prasetyo, ST… opo yo??… o yo.. pemikir dan cendikiawan alumni ITB??

Hoiii…. dimana alumni SMANSA’ 94??? SUDAH SAATNYA KITA MEMIMPIN…!!!!!!

Advertisements

ba ba ran…..

Posted March 1, 2008 by hio
Categories: .: Kabar Gembira!

Allhamdulillah….

Telah lahir anak perempuan kami dengan panjang 4.9cm dan berat 2.9 kg dengan selamat di RSIA Tambak, Manggarai tanggal 29 Feb pukul 15.15.

Terimakasih atas doanya selama ini

Salam,

Anas Bachtiar & Ditya

kumpul konco’ 94

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Reuni

kapan yo aku kok lali tanggale….

sing jelas acara dadakan kumpul konco’ 94 rong <2> bodho <lebaran> kepungkur tahun 2006 nek ra salah < hoiii sing kelingan ngandani yoo!!!>..

luwih eling acarane ora ngango konsep, ora ono panitia nganti radi mumet aku…. yo tapi syukur iso kumpul kurang luweh wong seketan….. he..he.. luwih eling duwit thu-thukan <spontan> turah satus ewu….. hoii Riz kok gowo tho turahane…

ben tambah eling ta’ duduhi gambare yo, tapi mung sithik…. aduh… malah gambarku dewe ra ono. Tu….restu…. koyoke kowe kae yo moto to… upload yo… ben konco liane iso nonton wong sing saiki podo lemu2….he..he… pak Joko Prasetyo ojo kawatir konco SMA mu wis lemu2 kabeh podo sampean….. hidup gembrottttt.

iki poto-potone…

r2.jpg  r4.jpg  r3.jpg  r5.jpg  r6.jpg  r7.jpg  r8.jpg  r9.jpgr10.jpg  r1.jpg

piye sing ijik ajek Djlamprong…geringe, Restu…..mbujangee, Dodik yo Topi yo Borjo….ijik jokone…..mungkin?

Sosial-2′ 94

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: Kelas Sosial { A3-2 }

Woiiii…para copet, garong, preman, drunker….rapatkan barisan…

AYOOO INSYAAAAFFFFFF…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dengkur Seorang Istri

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Seorang suami marah demi mendapati istrinya punya kebiasaan tidur mendengkur. “Wanita kok mendengkur,” katanya. Ia merasa berhak marah, karena dengkur bukanlah kebiasaan yang boleh dilakukan oleh para istri dan perempuan pada umumnya. Di mata suami seperti ini, istri adalah pihak yang harus selalu jelita, tidak boleh terlihat buruk rupa apalagi ada dengkur di tidurnya.
Tuntutan semacam ini bersemayam dengan sangat baik di dalam benak banyak pria, sehingga sedikit saja istri menampakkkan soal-soal yang dianggap tidak patut, suami merasa boleh kembali jatuh cinta.

Seorang istri memang memiliki tugas-tugas artistik di hadapan suaminya. Tapi jangan dikira seorang suami tidak. Jangan dikira cuma suami yang berhak terganggu oleh dengkur istri, karena istripun pasti sangat terganggu mendengar dengkur suami. Jadi, tugas artistik ini adalah kewajiban siapa saja. Konon, sebelum Roy Marten ngetop sebagai bintang film, sejak muda ia telah banyak digandrungi wanita. Ini patsi karena dia keren. Maka tugas menjadi keren adalah kewajiban siapa saja, termasuk suami di mata istri. Jadi, seorang suami yang lalai menjadi keren, harus memaklumi jika istrinya jatuh cinta lagi ke lain pria.

Tapi soal dengkur tadi pasti bukan persoalan artistik lagi. Dengkur itu pasti terjadi karena berhubungan dengan hidung. Dan hidung itu pasti bukan cuma milik laki-laki tapi perempuan juga. Bukan cuma milik suami tapi juga istri. Memaksa hidung untuk sama sekali terbebas dari dengkur sama saja dengan memaksa paru-paru terbebas dari bernafas. Ini tidak mungkin. Kenapa untuk soal-soal yang sudah jelas tidak mungkin, kita sering memaksanya menjadi mungkin.

Banyak ketidakmungkinan yang kita paksa menjadi kemungkinan cuma karena prasangka. Prasangka bawa kedudukan kita lebih mulia dibanding yang lain.
Kepada pihak lain yang keras dengkurnya kita boleh memandangnya hina, seolah-olah tidur kita telah sama sekali bebas dari dengkur serupa. Bahwa jika pun kita mendengkur, dengkur kita itu seolah-olah pasti dijamin lebih indah katimbang dengkur tetangga. Padahal dengkur adalah teman tidur siapa saja. Tak peduli pria wanita, tak menghitung diri sendiri atau tetangga. Dan saya jamin, dalam keadaan mendengkur, seluruh wajah kita, berada dalam posisi terburuknya. Keadaan tidur yang cantik, cuma ada dalam sinetron yang akting pemain-pemainnya masih jaim, yang bahkan dalam keadaan tidur pun harus tetap terlihat keren.

Jadi kenapa keburukan yang ada di dalam sendiri ini, menjadi begitu buruknya ketika sedang berada di dalam diri tetangga.
Kepada pihak yang sedang begitu masam bau keringatnya, kepadanya kita muaki sedemikian rupa seolah-olah bahwa kemasaman serupa tidak pula berada di ketiak kita. Kenapa untuk sesuatu yang jelas kita miliki, tidak boleh dimiliki pihak lainnya. Kenapa untuk sesuatu yang begini dekat, sering kita pandang begitu jauhnya. Kepada bau yang ada di dalam sendiri, seolah-oleh menjadi bau yang diharamkan ketika ia diaromakan oleh tubuh tetangga. Kepada dengkur yang juga ada di hidung kita sendiri, tiba-tiba menjadi dengkur terlarang ketika disuarakan oleh hidung pasangan kita.
Saya tidak sedang mengajak Anda bergembira mendengar suara dengkur atau menyukai keasaman keringat. Saya cuma sedang takut jika saya menjadi begitu angkuh kepada sesuatu yang seluruhnya juga ada di dalam diri saya.

Lidah Simon Cowell

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Dari kaget lama-lama menjadi takjub, itulah perasaan saya setiap melihat Simon Cowell bicara. Dunia tahu siapa orang ini, terutama penonton American Idol. Ia adalah salah seorang juri yang paling dibenci peserta karena kata-katanya. Jika rem, mulut Simon adalah rem blong. Ia akan menyambar apa saja yang ada di depannya meskipun taruhannya harus mati bersama. Itulah watak rem jika sudah blong. Tetapi bahwa Simon masih hidup sampai sekarang dan ia tidak dikeroyok massa, adalah fakta yang menakjubkan. Kesimpulannya, rem orang ini memang blong, tetapi ia pasti pengemudi yang hebat karena hingga kini masih selamat. Ia bukan cuma masih hidup, tapi juga kaya raya.Pertama kali melihat gaya Simon bicara, bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa ia demikian telengas memaki siapapun yang ada di depannya. Para peserta kontes Idol itu, adalah anak-anak muda yang masih rapuh. Kalah kontes saja sudah kesakitan luar biasa, apalagi kalah sambil dihina. Mereka akan habis dalam sekejab dilumat agresi dan destruksi Simon. Dan seluruh dari gaya Simon adalah kumpulan dari keduanya: ia tidak cuma mengagresi, tetapi juga mendestruksi. Bagaimana mungkin manusia setega itu dibiarkan hidup dan malah jadi juri, batin saya ngeri.

Tapi untunglah, dari ngeri saya berbalik geli. Eh, Tuhan pasti sedang menyodorkan teka-teki dengan menciptakan orang-orang seperti Simon ini. Pertama, sulit membayangkan American Idol tanpa kehadirannya. Maka Simon ini sesungguhnya pasti tidak jahat, melainkan sekadar terbiasa mengatakan kebenaran. Indonesia Idol menjadi kontes yang memukau, pasti karena dibangun dengan etos kebenaran semacam ini. Mencari yang benar itulah formulanya. Orde Baru, menjadi Orde yang tragis, pasti karena sedikit saja waktu itu dari kita yang berani mengatakan kebenaran. Karena betapa tidak mudah memang, mengatakan yang benar kepada pemimpin, karena ia tidak selalu enak di pendengaran.

Simon menempuh cara sebaliknya. Ia tidak menjilat kepada penonton. Ia bukan tidak mengerti tips untuk ditepuki. Jika mau mudah saja baginya memancing tepukan. Tetapi hal itu tak ia lakukan, karena selalu ada jenis tepuk tangan yang bersilang jalan dengan kejujuran. Tepuk tangan fans terutama, pasti lebih bermodal perasaan katimbang kejujuran. Maka membayangkan Simon Cowell sebagai pihak yang jujur, pihak yang mau menjadikan dirinya sebagai korban demi kejujuran, membuat saya berubah pendirian. Orang ini, dikirim ke dunia pasti bukan untuk menyakiti sesama, melainkan untuk mengajari kita kuat sakit di hadapan kenyataan.

Karena kepada yang benar, Simon adalah seorang penyayang yang nyata. Adegan ini buktinya: ketika seorang peserta audisi ada yang begitu buruk nyanyiannya. Semua juri hendak meledak oleh tawa saat peserta perempuan ini membuka suaranya. Benar-benar lebih mirip ringkik kuda. Tetapi apa keputusan Simon? Ia tidak menjatuhkan vonis seperti biasa. Ia malah menyuruh peserta ini menata kembali diri. Ia tahu suara peserta ini tidak jelek. Ia sejatinya unik. Ia hanya salah baca terhadap dirinya sendiri. Ia memaksa dirinya menjadi orang lain. Ia salah melakukan identifikasi dan mencari peta pada idola yang keliru. ‘’Cari dan dengar lagu Dolly Parton, pelajari dan kembali ke sini,” perintah Simon.

Dan benar, setelah diingatkan akan Dolly Parton, peserta ini kembali ke medan audisi sebagai pribadi yang sama sekali berbeda. Ada nyawa terpendam dalam dirinya, dan nama Dolly parton membuat peta keunikan itu muncul nyata. Jelas, pekerjaan Simon adalah menunjukkan jalan, meskipun caranya bisa saja menyakitkan. Di sekitar kita, ada pribadi seperti Simon ini. Mungkin ia tidak hangat sebagai teman, tidak artistik sebagai partner diskusi, terlalu ketus dan mudah menyakti, memuakkan sebagai pemimpin… tapi kuatlah menerima seluruh kesakitannya. Ia diam-diam sedang membimbing kita menemukan jalan.

Kita Adalah Orang-orang Yang Menunggu

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

 

Setiap kali saya merasa aneh setiap melihat tukang tambal ban. Keanehan terjadi ini membuat saya tidak tahan dan terpaksa jadi tulisan. Amatilah, jika sedang tidak ada kerjaan, tukang tambal ban ini pasti memandang kejauhan, kadang kosong dan menerawang. Ada berjubel imajinasi di kepalanya, tapi hampir satu yang pasti, datangnya ban bocor adalah soal yang paling dia bayangkan. Dan fakta bahwa orang ini sudah bertahun-tahun menjalani profesinya, adalah bukti bahwa ban bocor itu setiap hari ada. Dan bahwa ada ban yang selalu dibocorkan oleh keadaan hanya untuk memberi rezeki orang ini  saya kira jauh lebih ajaib katimbang Borobudur  dan Air Terjun Niagara. Itulah kenapa menunggu  adalah kegiatan yang menakjubkan saya karena ia adalah bentuk  usaha tertinggi yang bisa dilakukan manusia.

Apa yang bisa kita kerjakan selain menunggu? Benar ada seminar, ada motivasi, ada kursus ketrampilan, kursus kepribadian, manajemen cepat kaya dan  sebagainya. Tetap setelah  semua itu dilakukan, pekerjaan  terakhir tak ada. Menunggu itulah akhirnya. Seluruh dari kita ini tak lebih dari kaum penunggu. Maka di  dalam  caramu menunggu itulah terletak martabat hidupmu, begitu nasihatku kepada diriku.

Tukang tambal ini, akan saya anggap gugur mutunya jika sambil menunggu ia ternyata menabur-naburkan paku di lokasi terentu. Sambil menunggu dagangannya laku, seorang pedagang memang bisa merekayasanya dengan cara memfitnah pesaingnya atau malah mensabot usahanya. Sambil menunggu kekuasaan datang kepadanya, seorang politikus memang bisa melancarkan kampanye hitam untuk kompetitornya. Tetapi saya pasti tidak sedang bicara tentang orang-orang seperti itu karena kepada mereka telah disematkan status yang jelas; kaum rendah perilaku.

Tapi saya pasti sedang bicara tentang  seorang tukang tambal ban yang  ketangguhannya setara dengan burung-burung yang pagi terbang petang pulang dengan tembolok kenyang. Yang dilakukan burung ini hanya sebatas  terbang dan  ia tak peduli apakah bursa saham anjlok cuma gara-gara kredit perumahan. Yang dia lakukan tukang tambal ini tak lebih hanya duduk menunggu tanpa peduli apakah apakah Honda dan Toyota masih akan memproduksi mobil-mobil mereka ke Indoneisa. Yang dilakukan orang ini hanyalah satu: menunggu. Tetapi di dalam  saat menunggu inilah terletak dialog paling intensif antara manusia dengan keterbatasannya. Maka menunggu, sesungguhnya adalah kegiatan yang harus dilakukan dengan gembira, karena itulah saat paling menguji mutu kita sebagai manusia.

Ketika usia SMA, saat-saat paling berat dalam hidup saya adalah menunggu kartun saya di muat di media massa. Karena cuma itulah harapan saya satu-satunya dalam memperoleh uang. Tak terbayangkan marahnya hati ini jika sudah dikirimi berkali-kali tetapi tetap tak ada yang dimuat juga. Ingin rasanya saya mengobrak-abrik kantor redaksi media itu. Ingin saya mengajak orang sekampung untuk mengeroyok redakturnya hingga hancur-lebur.  Bahagia rasanya membayangkan redaktur yang kejam itu babak belur dikeroyok massa.

Walau ternyata tidak. Kebahagaian yang sesungguhnya ternyata saya dapati ketika saya berlaku sebaliknya yakni dengan cara terus menggambar, terus mengirim dan terus menunggu. Pada saat kartun iu muncul untuk kali pertama, rasanya seluruh dunia seperti hendak  meledak oleh kegembiraan saya. Waktu itu, bahkan terpilih menjadi presiden Amerika pun tidak akan sanggup melawan kegembiraan saya.