Ayam Jagoku

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel


Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Di rumahku ada warga baru, ayam jago Bangkok, pemberian seorang teman. Sebuah pemberian yang kami sambut gembira dan bingung sekaligus. Gembira, karena ia bukan jenis ayam murahan. Saya jelas bukan pejabat yang butuh disetori muka, disetori upeti dan budaya ambil hati. Maka jika pemberian yang berharga ini saya terima, pasti lebih karena sebuah ketulusan.

Tapi ketulusan ini pasti baru setengah kebahagiaan. Setengah yang lain pastilah karena ayam ini akan berkokok jika subuh datang. Ia akan menjadi jam hidup yang mengesankan dan yang akan menggugah kami agar tidak bangun kesiangan. Maka ketika kami menikmati kokok ayam pertama, seluruh keluarga bergembira.

Tapi seluruh kegembiraan ini pasti juga cuma setengah dari persoalan, karena setengah berikutnya pastilah kebingungan. Bingung karena kami tidak memiliki kandang. Hari pertama saat ayam ini datang, ia kami biarkan mengembara ke mana-mana dan kotorannya segera berserak ke mana-mana. Oo, bicara soal ayam ternyata bukan cuma bicara soal kegembiraan, tapi juga kebingungan berpikir tentang kotorannya. Lama-lama kami mengkalkulasi, adakah kegembiraan saat mendengar kokok ayam ini, sepadan dengan kesengsaraan kami dalam merawat dan membersihkan kotoran.

Lagi pula, jika cuma butuh kokok ayam, mestinya yang kami pelihara cukup ayam kate. Ayam yang bentuknya kecil, tapi cerewet bukan main. Maklum, modal ayam kate ini memang tak ada kecuali keramaian suaranya. Bertarung ia tak bisa. Sedang jago Bangkok ini, berkokok cuma sesekali saja. Ia tipe ayam pendekar, untuk berkelahi tidak perlu banyak basa-basi. Ini kesalahan pertama yang tak pernah kami duga.

Kami bukan majikan yang punya bakat sebagai botoh dan penyabung ayam. Tapi bahwa yang kami punya adalah ayam aduan, sungguh membuat kami merasa menjadi majikan yang salah jurusan. Maka setiap kami sekeluarga memandangi ayam ini, yang muncul adalah ketakutan kami. Pada tubuhnya yang gagah, pahanya yang kekar dan tajinya yang kokoh, tajam dan mengentarkan.

Pendek kata setiap jengkel tubuh ayam ini, memang dipersiapan untuk menjadi petarung. Maka jika lama ia tidak bertarung, jangan-jangan malah keluarga kami yang akan dia tarungi. Maka setiap memandang jago ini, bukan kerinduan atas kokok subuhnya yang terbayang, melainkan kengerian kami. Apalagi cerita tentang anak-anak dipatok ayam, tentang ayam jago yang gila dan pernah melubangi pipi anak majikannya, pernah pula kami lihat sendiri. Jadi, astaga, kenapa pandangan kami terhadap ayam jago ini menjadi horor begini.

Cukup lama kami harus mendamaikan kengerian ini. Tapi bahwa akhirnya ia tak lebih dari seekor hewan, redalah kengerian kami. Betapapun tajam tajinya, betapapun gagah dan beraninya, betapapun ia adalah petarung sejati, jatuhnya toh tetap ayam belaka. Sehebat-hebatnya dia, kalau jengkel, kami sembelih saja pasti habis perkara. Maka singkat cerita, berdamailah kami pada ayam jago ini.

Jika pagi ia dimandikan. Jika kami panggil ia menyahut. Jika lapar ia berkokok memanggil kami. Maka dari seekor ayam pendekar, ia menjadi ayam piaran. Penurut, pendiam dan jinak dan untuk menyentuhnya, anak-anak kami tak takut lagi. Dengan segenap kesadaran, kami tak memberi ruang pada naluri bertarungnya. Biarlah ia tak jago bertarung lagi, karena ia memang tak akan kami tugasi sebagai tukang kelahi.

Biarlah ia menjadi ayam kampung biasa. Menjadi kalahan juga tidak apa-apa, karena ia memang tak hendak kami juruskan ke sana. Sebuah penjurusan yang amat berhasil. Ayam seangker itu, sekarang menjadi ayam yang penurut dan manja. Sebuah perubahan yang pasti akan membuat kaum penyabung ayam kecewa.

Begitu manisnya ayam ini di mata kami, sampai suatu kali kami hendak menghadiahkan seekor pacar kepadanya, berupa ayam babon Bangkok, demi ketentraman hidupnya. Untuk menjaga tertib kesejarahan, kami juga tidak membeli ayam babon ini, melainkan cukup meminta kepada teman yang sama. Kami menduga, pemberian ini akan disambut dengan suka cita oleh si jago yang merana. Maka ketika malam itu si babon kami masukkan begitu saja dalam kurungan yang sama, hasilnya adalah kegemparan yang mengerikan.

Si babon ini dikira musuh dan dilabrak demikian seketika. Cepat, mematikan dan berbahaya. Seluruh rumah jadi gaduh. Aku sendiri panik tiada terkira. Kurebut babon itu dari amukan maut, tapi ganti aku sendiri menjadi korbannya. Si jago yang amat marah ini mematuk apa saja dari tubuhku, tajinya itu melesat cepat seperti peluru dan untung hanya menyerempet sedikit saja daging kakiku. Kami sekeluarga butuh menentramkan diri atas insiden ini. Tapi sambil menyeka darah yang mengalir dari kakiku, aku temangu-mangu pada patokan dahsyat ayam yang kusangka telah menjadi manis itu.

Ternyata tak ada pihak yang benar-benar lemah, jika umpan yang tepat, sedang berkelebat di depan matanya. Jika ayam saja langsung memunculkan kemampuan terbaiknya begitu si umpan tiba, apalagi manusia. Sayang, kita, manusia ini, sering begini cuek walau umpan setiap kali disodor-sodorkan di depan hidungnya. Betapa sesuatu kali, ada sebuah keadaan, yang membuat kedudukanku lebih rendah dari ayam.

Burungku Bisu Sekali

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Sepasang burung kecil yang kubeli karena bujukan pedagangnya ini menyadarkan satu soal lagi kepadaku bahwa jangan-jangan selama ini kita salah paham terhadap kicauan burung piaraan. Jangan-jangan yang kita katakan berkicau itu adalah sebuah omelan. Jangan-jangan yang kita sangka nyanyian itu adalah sumpah serapah.

Sepasang burung kecil ini memang datang dari jenisnya yang ramai sekali. Baik gerak maupun bunyinya tak pernah berhenti. Sangkarnya yang juga kecil itu dibuat terpisah. ”Ini darurat. Nanti bisa diganti. Jika ditempatkan dalam sangkar tersendiri dan diletakkan terpisah, bunyinya akan lebih gila lagi,” kata pedagang burung ini berapi-api.

Seluruh nasihatnya aku turuti. Ketika di rumah, burung ini aku tempatkan terpisah. Hasilnya luar basa. Kicauanya deras sempurna. Ia menyanyi tanpa henti dan menjadi sumber keheranan tetangga. Setiap barang baru yang tetangga ikut mengagumi, sungguh mendatangkan kebanggaan ekstra

Tapi baru selang beberapa hari, salah satu sangkar ini terjatuh dan rusak. Terpaksa burung yang satu diungusikan sementara ke sangkar pasangannya. Burung yang sejatinya memang sepasang ini kembali dipertemukan dalam satu kandang. Hasilnya menakutkan: keduanya langsung bisu bersama-samaa. Dari burung kecil yang lincah dan periang, seketika menjadi burung yang pemalas dan menjengkelkan. Kerjanya cuma nangkring berdampingan, mencari kutu di bulu pasangannya dan kurangajar … mereka berciuman. Burung ini, tanpa seizin sang majikan, berani menjalani cinta terlarang. Begitu asyiknya mereka bermesraan sehingga lupa tugas utamanya: menghibur majikan.

Hampir saja aku murka dibuatnya. Terngiang kembali nasihat penjual burung ini sebelumnya: dicampur di satu kandang, itulah pantangannya. Kini pantangan itu kulanggar sendiri, dan aku harus bersiap menanggung akibatnya. Maka secepatnya pantangan itu hendak kembali kujaga. Sangkar baru kusiapkan demi mengembalikan kicauannya. Dan ketika sangkar baru sudah tiba, sudah saatnya burung celaka ini dipindah paksa, mereka belum pula menyadari keadaannya.

Keduanya masih saja nangkring berhimpitan. Begitu malasnya burung-burung ini sehingga kicauan tak lagi mereka perlukan. Kicau, harga termahal dari seekor burung telah mereka lupakan oleh kesibukan pacaran. Baru benar-benar ketika mereka telah siap dipisahkan, aku merasakan perbedaan cara menentukan harga di antara kami. Aku yang menganggap mahal kicauannya pasti berkebalikan dengan burung-burung ini yang menganggapnya sebagai soal yang murah saja. Murah jika bandingannya adalah kebersamaan dan kebahagiaan mereka ketika sedang bersama-sama.

Mereka tak perlu berkicau lagi karena dada-dada mereka pasti sedang penuh oleh rasa bahagia. Aku baru bertanya sekarang, jangan-jangan kicauan yang selama ini kudengar dari paruhnya itu adalah sebuah jeritan. Burung ini bisa jadi bukan sedang menyanyi melainkan sedang memekik-mekik untuk dipertemukan dengan kekasihnya yang hilang, tetapi aku menangkapnya sebagai nyanyian. Burung ini mungkin tengah menangis meraung-raung sementara di kupingku terdengar sebagai kemerduan.

Begitu bernafsunya aku ini tehadap kegembiraanku sendiri sehingga kepedihan pihak lain kujadikan bahan baku. Kenapa ada ratapan yang kudengar sebagai nyanyian cuma karena nasfuku yang terlalu untuk kegembiraanku.

Keponakan Dari Desa

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS

Suatu kali keponakan saya datang dari desa dengan motor dan tas penuh meninggi di punggungnya, isinya adalah hasil kebun kakak saya: buah petai! Buah yang baunya jauh lebih menggemparkan dibanding rasanya. Jumlahnya membuat saya terpana dan karena banyaknya saya berencana membagi-bagikan juga ke tetangga. Ada banyak alasan, pertama menyenangkan tetangga adalah pekerjaan yang menggembirakan. Kedua, makan petai enaknya harus bersama-sama. Ini baru adil. Karena jika engkau makan, aku cuma kena baunya, ini kejahatan, karena bau petai ini memang jahat sekali. Saya bukan penggemar petai, tetapi juga tidak anti sama sekali. Tapi intinya ialah bahkan bau pesing pun kalau itu hasil produksi bersama pasti jauh dari pertengkaran.

Tetapi bukan soal petai itu yang akan saya ceritakan, melainkan kedatangan keponakan yang salah waktu itu, meskipun ia datang hendak membagi kegembiraan. Tetapi itulah waku yang saya sedang diburu-buru pekerjaan. Komputer baru saja menyala dan sebuah tulisan buru-buru harus dirampungkan. Pada saat seperti ini, tak ada soal yang lebih penting selain melihat agar tulisan itu lekas jadi. Maka kedatangan keponakan saya dari jauh itu tak lebih dari gangguan.

Hampir saja saya menyelesaikan persoalan ini dengan cara praktis, menyapa secukupnya, meminta maaf karena saya sibuk, meminta dia ambil makan dan minum sendiri dan begitu pulang saya cukup memberinya uang saku seperlunya. Hampir saja! Tetapi kemudian saya begitu marah kepada diri sendiri. Komputer itu segera saya matikan. Ini pasti bukan karena saya terlalu sibuk. Ini pasti karena di mata saya, pekerjaan adalah satu-satunya soal yang terpenting di dunia. Pekerjaan benar-benar telah bersiap menjadi berhala.

Saya tanya kepada diri saya sendiri dengan perasan marah, apakah dunia akan kiamat kalau pekerjaan ini sejenak saya hentikan? Tidak! Keponakan itu datang dari jarak hampir seratus kilo, dengan beban berat di pungungnya. Dari daerah pegunungan yang pasti membuat ia harus melawan dingin dengan geraham gemeretak dan bibir kebiruan. Dan ia tidak akan singgah lama, karena setelahnya ia harus pergi meneruskan urusannya sebagai anak muda.

Saya tidak tahu, berapa kali momen persaudaraan seperti itu akan terulang. Tetap saya tahu, selama bumi berputar, cuma sekali saja saya akan melihat keponakan ini bermotor, menembus hawa dingin, dengan beban menggunung di punggung, demi mengantar oleh-oleh petai dari desa kepada om-nya. Cuma sekali! Dan yang sekali itu pun cuma akan disambut dengan sekadar sapaan seperlunya dan kebaikan basa-basi. Untung saya segera habis-habisan mendamprat diri sendiri! Komputer itu saya pelototi dengan marah untuk saya bunuh dengan tega dan dengan segera saya temui keponakan yang ketika kecil saya gendong-gendong itu.

Saya pandangi dia hingga tas itu merosot dari pungungnya. Saya tongkrongi ketika dia melepas jaket-jaketnya. Saya duduk di depannya. Saya tak peduli ketika ia cuma diam saja. Ia telah tumbuh besar. Dia membesar, saya menyibuk. Perkembangan ini telah membuat kami terancam saling asing. Tapi meskipun kami saling terdiam, saya mengirim pesan yang jelas untuknya. Ia tahu, saya tengah menyambutnya, menghargai kedatangannya dan menerimanya. Pesan ini pelan-pelan membuatnya nyaman. Maka setiap pertanyaan tentang kabar di desa, tentang kuliahnya di kota, tentang aktivitasnya, ia jawab dengan hati yang hidup dan gembira. Saya segera mendengar seorang anak-anak yang haus bercerita. Benar, ada segudang cerita yang ia ingin orang lain mendengarnya, terutama pasti orang-orang terdekatnya. Cerita itu akan menjadi barang beku, jika saya, om-nya, orang tuanya, orang-orang terdekatnya, cuma sibuk dengan dirinya sendiri. Kesibukan yang keterlaluan kepada diri sendiri, telah membuat banyak orang-orang yang mestinya kita sayang menjadi korban. Mereka kesepian, gagal tumbuh dan beku.

Pertemuan kami tak lebih dari setengah jam. Saya mengantarnya hingga ia lenyap dengan sepeda motornya di pengkolan jalan. Ia pasti pulang dengan hati gembira dan pesan yang jelas di jiwanya: bahwa om-nya ini, masih menyayanginya!

Bunga-bunga Di Rumahku

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Mau tapi tak mampu itulah keadaanku atas bunga-bunga di rumahku.  Kusangka, jika sudah  kusiram, setiap tanaman akan tumbuh sempurna  dengan  sendirinya. Dugaanku ternyata keliru. Ada jenis tanaman yang sampai lelah aku menyirami, bentuknya senantiasa seperti pihak yang merana. Karena jengkel, aku mendatangi pakar bunga di kampungku. Hasilnya, ia tergelak melihat kebodohanku. Begitu banyak bunga salah letak menurutnya. Ada jenis bunga yang rakus panas, tetapi letaknya di keteduhan. Ada jenis yang suka teduh, tetapi malah selalu kepanasan. Olala, sama-sama hijau daunnya tetapi kenapa berbeda wataknya.

Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo bunga-bunga ini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya bisa pecah menjadi dua, tiga dan  seterusnya.   Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara mewujudkannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga.  Bunga-bunga di rumahku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di sekitarku.

Maka atas saran sang teman yang ahli itu aku memindahkan bunga-bunga ini sesuai kebutuhannya. Yang suka panas ketemu pans, yang suka teduh ketemu teduh. Aku menyangka  perubahan akan terjadi segera. Bunga-bunga yang merana itu kusangka akan menyubur seketika. Tapi lagi-lagi aku salah sangka. Rasanya mereka tetap saja seperti sedia kala. Hampir saja aku menyangka yang salah  adalah bunga-bunga itu sendiri karena terlalu keras kepala. Seluruhnya sudah  kuberikan, tetapi mereka sendirilah  yang enggan pada pertumbuhan.

Setiap kali, batangan tonggak yang nyaris mati itu rasanya tetap belaka meskipun panas matahari sudah leluasa mengguyurnya. Setiap saat, daun-daun yang kurang gizi itu kuning saja warnanya. Ia tak segera menghijau segar seperti yang aku duga. Hampir saja aku patah hati dan pohon yang kusangka mati itu kukorek-korek  saja sesuka hati. Astaga, ketika kulitnya mengelupas baru aku kaget dibuatnya. Pokok bunga itu ternyat terlihat hijau sekali. Ini pasti pohon sehat cuma belum bersemi. Melihat perubahan ini aku girang sekali. Setiap pagi, aku semakin bergairah menyambangi  bunga-bunga yang nyaris sekarat ini dan tegang menunggu  perubahan apalagi yang akan terjadi.

Oo semuanya ternyata sedang berubah cuma aku saja yang kurang teliti. Dahan-dahan yang meranggas itu diam-diam menghijau dengan pasti. Daun-daun yang menguning itu diam-diam menyergarkan diri. Makin hari perubahan itu kian nyata cuma memang tidak dengan  segera. Ternyata tidak ada perubahan yang  seketika. Ketidak sabaran terhadap perubahan inilah watak dasar manusia yang sering melahirkan  bermacam-macam perkara. Di dalam dunia politik ia bisa melahirkan revolusi yang mahal biaya, di dalam birokrasi ia bisa menggoda untuk korupsi yang bisa membangkrutkan negara, di dalam urusan mencari kekayan ia bisa membuat orang tidak  sabar bekerja dalam kewajaran. Ada yang begitu nekatnya sehingga masa tuanya malah berakhir di penjara. Ada perubahan yang jika ukurannya adalah ketidak sabaran terasa amat lambat.

Tetapi anehnya, ketika bonggol meranggas itu mulai bersemi, rasanya daun-daun berikutnya menyusul cepat sekali. Ketika tulisan ini dibuat, si bonggol itu malah telah memunculkan putik bunga, sebuah percepatan yang sama sekali tak terbayangkan. Perubahan rasanya juga seperti perbuatan; kesulitannya ada di langkah pergtama. Ketika yang pertama telah dijatuhkan, kedua dan  ketiga akan mengikuti dengan sendirinya. Prajurit Keraton Yogyakarta dalam berbaris misalnya, memakai aba-aba yang artinya kaki kiri maju, kaki kanan mengikuti. Jadi yang penting adalah kaki kiri maju lebih dulu agar kaki kanan bisa mengikuti. Tanpa si kiri maju tak ada kanan yang akan mengikuti.

Terakhir dan ini terpenting bagiku, bunga-bunga ini mengajariku meyakini satu hal: jika segala sesuatu diletakkan sesuai tempatnya,  tak peduli betatapun lambat, ia akan berubah juga

Nonton Konser Bee Gees

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

  Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Di sebuah waktu luang seharian saya membongkar-bongkar barang-barang lama. Saya membaca ulang buku-buku lama, menonton rekaman DVD lama. Saya membaca ulang novel Max Havelaar yang saya beli tapi tidak pernah saya baca dengan seksama. Aduh, berdosa benar saya. Buku itu ternyata sastra luar biasa. Sebuah novel sejarah yang mencekam. Dan gaya Multatuli alias Douwes Dekker itu dalam bercerita, benar-benar bergelora ketika saya dengan teliti menyimaknya. Sinis, lucu, cerdas. Tergelak-gelak saya dibuatnya dan bodoh benar saya bahwa humor seperti ini pernah saya biarkan teronggok  begitu lama. Buku ini dibuka dengan narasi seorang pedagang yang pikirannya cuma melulu kepada uang. Maka seluruh soal yang tidak mendatangkan uang ia cibir habis-habisan termasuk kesenian. Kepada sepotong sajak yang mengatakan: udara hitam pekat… dan waktu sudah jam empat, misalnya, ia umpat sebagai kebohongan. ‘’Mana mungkin ada udara sudah hitam pekat tepat pada jam empat. Bisa jadi waktu itu baru pukul tiga seperempat,” begitulah kira-kira rasa sinisnya.

Saya  baca ulang buku-buku Kahlil Gibran. Kecil, tipis, murah dan seperti barang tak berharga. Tapi ya ampun, baru membuka selembar halamannya saja, saya seperti terlempar di sebuah galaksi yang jauh. Ia langsung menggedor saya: suka cita tak lebih adalah duka yang telah terbuka kedoknya, katanya. Sangar benar penyair ini! Baru satu kalimat. Padahal seluruh buku itu berisi ribuan kata yang semuanya tak selalu saya mengerti tapi entah kenapa kenindahannya terasa di hati.

Saya menonton ulang biografi  Muhammad Ali. Edan, keberanian orang ini keterlaluan. Di depan  wartawan, saat ia hendak  menantang juara dunia ia tidak cuma menjawab, tetapi juga bertanya. ‘’Apa kabar Sony Liston? Apa dia masih jelek? Juara dunia harus ganteng seperti saya!” teriaknya. Ali tidak cuma berani berkelahi, tetapi juga berani  disalahpahmi. Dan keberanian itu melebar ke mana-mana hingga jauh di luar dunia tinju. Sendiri, ia menantang politik Amerika yang hendak mengirimnya ke Vietnam sebagai wajib militer. ‘’Tak ada alasan saya pergi untuk membunuh sesama orang miskin. Lagipula tak pernah ada Vietkong yang memangil saya Negro!”  Untuk keyakinannya ini, ia merelakan gelar juaranya dicopot paksa dan terancam masuk penjara.  Meletup-letup gairah saya melihat keberanian semacam ini.

Saya lalu menonton ulang dokumentasi Bruce Lee. Wuaaah… pede-nya setengah mati. Kecil saja tubuhnya, tetapi seluruhnya seperti cuma terdiri atas otot. Itulah otot yang sanggup melahirkan teknik pukulan satu inchi yang fenomenal. Di dalam tubuh sekecil itu menggelegak nyali yang menyala-nyala. Ia taklukkan Amerika dengan pukulan satu inchi-nya dan memaksa orang-orang yang dua kali lipat tinggi tubuhnya harus datang sebagai  murid.

Lalu saya nonton konser Bee Gees di Las Vegas. Haaa…. suara falset Gibb bersaudara yang sebetulnya aneh itu, menjelma sebagai koor yang memukau. Mereka telah menjadi para veteran. Si bungsu, Andi Gibb bahkan telah tiada saat konser itu berlangsung. Tetapi tenggorokan mereka   seperti masih tetap sepeti sedia kala. Seluruh penonton hafal hingga titik koma lagu mereka. Tapi tidak  pernah sekalipun orang-orang ini terpancing mengacungkan mikrofonnya ke  arah penonton dan meminta  untuk menirukan nyanyiannya. Di tengah lautan pemuja, orang-orang ini tidak sekalipun tergoda berimprovisasi  macam-macam cuma karena dorongan untuk bergaya.

Ada jenis penyanyi yang begitu mendengar tepuk tangan langsung lenyap kesadarannya lalu bergaya terlalu dini. Baru masuk intro sudah  melenggak-lenggokkan lagunya sedemikian rupa. Penonton pasti tidak butuh ini. Penonton butuh lagu yang secara persis telah ada di benak mereka, dan Bee Gees mengerti hukum ini.  Di tengah histeria pemuja, Bee Gees tampil lurus, patuh, tertip dan sederhana. Ini sungguh setara dengan orang kaya  raya tetapi tetap  hidup  bersahaja. Sungguh tirakat batin yang berat, dan hanya para juara yang sanggup melakukannya.

Lalu saya nonton konsernya Guns N Roses. Wuaaa… urakan  sekali AXL Roses itu. Kalau ia tetangga saya, bisa jadi saya sudah meminta Pak Lurah untuk mengusirnya. Tetapi ketika ia sudah  berada di depan piano dan  menyanyikan November Rain itu…. Ups! Saya boleh tidak  menyukai orang ini  secara pribadi tetapi saya tidak bisa untuk tidak menghormati bakatnya.

Terakhir: sebetulnya saya bukan sedang ingin membuat resensi buku dan pertunjukan. Saya cuma sedang ingin menunjukkan; ada banyak harta karun terpendam di rumah Anda. Bongkarlah dan temukan kebahagiaan yang terancam Anda lupakan!

Hukum Newton Ketiga

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Pelajaran fisika ternyata bisa melalui siapa saja termasuk melalui penjual jagung bakar langganan saya ini. Darinya saya sanggup menghafali secara amat baik Hukum Newton Ketiga, bahwa aksi akan sama besar dengan reaksi tapi bergerak secara berlawanan. Gampangnya, jika Anda memukul sekuat tenaga, pukulan itu bisa dimanfaatkan lawan untuk menjatuhkan Anda sendiri dengan kekuatan yang sama.

Sebagai penggemar jagung bakar, saya telah mencicipi hampir seluruh rasa jagung bakar di kota tempat saya tinggal. Dari seluruh gerai jagung bakar yang ada, kepada pedagang yang satu inilah saya jatuh hati. Pertama, pasti karena rasanya. Jagung bakar langganan saya ini bisa mengolesi mentega seperti orang mengaspal jalan saja. Serba mantap, tak kenal ragu dan royal sekali.

Sebuah jagung, setidaknya tiga kali olesan. Olesan pertama, adalah olesan pembuka, yang biasanya menimbulkan asap khas yang bahkan baunya telah membuat saya terkesima. Olesan kedua adalah peresapan agar mentega itu melesak dengan sempurna, dan olesan ketiga adalah bonus. Berkesempatan mencicipi jagung panas berleleran mentega ini adalah salah satu sebab, kenapa saya masih bangga menjadi rakyat Indonesia. Saya belum pernah berkeliling dunia, tapi pembakaran jagung seperti ini pasti cuma ada di negeri saya.

Oya, jika mentega ini belum dianggap cukup, mereka selalu menyertakan mentega ekstra sebagai cadangannya. Tapi bagi saya, yang paling mengesankan adalah bagaimana cara pedagang ini menjaga mutu sambalnya. Saya amat menyukai jagung bakar asin,gurih, pedas. Ada banyak pedagang yang bisa membuat asin, tapi tidak cukup gurih. Banyak yang asin dan gurih tapi kepedasannya datar-datar saja. Banyak yang bisa pedas, tapi kurang asinnya. Tapi pedagang ini, semuanya nyaris sempurna; asin, gurih, dan pedaaass! Aduh, tambah satu lagi: panaaaass!

Saya bertanya kenapa. Dan jawabannya ternyata ada pada kesetiaan orang ini menjaga kualitas cabai-cabainya. Saya sering mencuri-curi pandang di ”dapurnya”. Betapa selalu cuma cabai merah yang ia pakai, bukan hijau. Cabai yang selalu tua, bukan muda. Seleksinya amat ketat terhadap cabai-cabai itu, termasuk ketika harga cabai sedang meninggi dan banyak pedagang makanan ramai-ramai membeli cuma cabai muda saja.

Orang ini pasti tidak mengenal Kolonel Sanders, tapi ia mewarisi kepatuhannya menjaga satu hal: bahwa rasa pun harus melewati sebuah prosedur, karenanya standarnya harus dijaga. Maka dalam soal menjaga standar itu, saya menghormatinya seperti saya menghormati KFC. Jadi logis, ketika pedagang jagung lain cuma sibuk termangu menunggu pembeli, pedagang langganan saya ini sibuk dikerubut pembeli. pedagang lain seperti cuma menampung muntahan pelanggannya belaka.

Tapi, bagi saya, soal rasa itu baru separoh dari kemenangannya. Karena setengahnya, kekuatan itu adalah pada diri mereka itu sendiri. Sementara yang lain cuma berjualan seorang diri, kedai ini serempak maju secara suami-istri. Sudah tua umur mereka dan sudah bercucu pula. Jika si istri seorang penyabar, si suami adalah pria yang gemar bercanda. Sebuah gabungan sales yang lengkap. Sebelum Hermawan Kartajaya mempopulerkan marketing in Venus, orang ini bahkan sudah jauh lebih dulu mempraktekannya. Ia berdagang secara amat emosional, enak, menyentuh dan manusia….

Jika si pembeli adalah serombongan anak muda, dua orang ini akan segera bertindak sebagai bapak-ibu mereka. Jika si pembeli adalah rombongan keluarga, pasangan ini bisa beralih rupa sebagai mertua, kakek-nenek dan orang tua. Jika si pembeli adalah para juragan dengan mobil mewah yang saking mewahnya enggan turun dari mobil mereka, penjual jagung ini langsung menjadi bawahan yang setia.

Di gerai jagung bakar ini, hukum Newton ketiga bekerja secara amat nyata. Apa yang kita lempar ternyata adalah apa yang akan kita dapati. Jika begini hukumnya, kenapa kita sering cuma melempar soal-soal yang sering cuma melukai sesama belaka. Maka tidak aneh, jika sering begitu banyak luka di hati kita sendiri.

Dua Jam Sebelum Keberangkatan

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Sebelum atlet berlaga, harus melakukan peregangan. Sebelum kendaraan dieberangkatkan, mesin harus dipanaskan. Sebelum menulis sajak, penyair harus duduk dan terdiam. Maka sebelum berangkat kerja, manusia juga butuh kesiapan. Pemanasaan mutlak hukumnya bagi sebuah pergerakan. Tetapi saya curiga, tidak semua kita yang hendak bekerja, berangkat dengan kesiapan. Maka kerja yang tidak siap itulah sumber aneka persoalan.

Hanya karena soal sederhana, seorang pekerja yang tidak siap, akan mudah terbakar kemarahan. Kalau ia seorang atasan: bawahan terlambat akan terasa sebagai hinaan. Dering telepon akan serasa gelegar petir dan klakson di jalan akan terasa seperti bentakan.

Jika ia seorang bawahan, maka ia akan tegang cuma deru mobil atasan. Ketika atasan memanggil ke ruangam, ia seperti hendak masuk arena uji nyali. Ketika atasan ia lihat untuk pertama kali, ia seperti melihat penampakan.

Cuma karena ketidak siapan yang soal-soal  sederhana menjadi begitu beratnya. Maka jika ingin kuat, bersiaplah! Begitulah cara saya menasihati diri sendiri. Nasihat ini butuh ditegaskan berulang-ulang, karena saya tahu benar siapa diri saya ini. Saya pasti bukan orang pembarani. Maka untuk berani saya pasti butuh kesiapan. Saya bukan orang yang selalu jujur. Maka untuk jujur, saya butuh latihan. Saya bukan orang ramah, maka agar bisa ramah, saya butuh kegembiraan. Berangkat setelah siap, itulah kata kuncinya. Kesiapan akan membuat kegembiraan. Dan kegembiraan akan mengalirkan bermacam-macam kekuatan. Kuat ramah, kuat jujur, kuat derma. Sulit sekali untuk ramah jika hati kita tidak gembita. Sulit sekali berbuat jujur kalau hidup ini penuh persoalan. Sulit sekali kita berderma kalau hari sedang tidak rela meksipun  sedang banyak uang di kantong kita.  Kesiapan akan mudah memantik kegembiraan, kegembiraan mudah melahirkan kekuatan.

Dan kesiapan itu, sepanjang pengalaman saya, cuma butuh cara-cara sederhana, misalnya cukup dengan menyediakan waktu minimal dua jam sebelum keberangkatan. Karena setelah bangun tidur, untuk tenang, seseorang butuh terdiam, demi  mengembalikan  kesadaran, menata nafas dan pikiran, baru mengerjakan lain-lain persoalan. Mandi dengan tenang, minum kopi dengan tenang, dan maka pagi dengan tenang. Bahkan makan minum yang kehilangan ketenangan, cuma setara dengan memasukkan barang ke dalam keranjang.

Jika jarak antara tidur dan kerja itu cuma sekejap saja, saya tak bisa membayangkan mutu keberangkatan seperti apa yang ia dapatkan. Itulah kerja yang dibekali dengan mandi yang buru-buru, makan yang buru-buru, di jalan yang buru-buru dan semua soal yang berwatak buru-buru. Sepanjang yang  saya tahu, tidak ada hasil bermutu dari sebuah proses yang buru-buru. Bahkan di jalanan pun, jika kita buru-buru, tak ada yang nikmat dari sebuah perjalanan kecuali siksaan.

Seluruh obyek di jalanan cuma seperti hambatan. Jika ada orang yang terlalu pelan, ia tampak seperti menggoda. Jika ada orang menyalip sembarangan ia seperti menantang. Dan siapapun yang sedang menghalangi jalan ia sah untuk disingkirkan. Seluruh  isi jagat raya ini sepertinya tengah keliru cuma karena kita sedang buru-buru.    Ada banyak mutu hidup yang kita pertaruhan, cuma karena sebuah ketidakesiapan. Dan membangun kesiapan itu ternyata sederhana: cukup dimulai dengan kebiasaan bangun setidaknya dua  jam sebelum keberangkatan

 

Jurus Menghibur Diri

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Artikel

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Tak terbayangkan betapa berat beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan kemampuan menghibur diri. Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata memandang, rasanya manusia cuma akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftar persoalan itu, sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika hidup cuma berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia pasti akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan. Maka antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat bahkan filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.
Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita yang tak ada rampung-rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang berani hidup katimbang berani mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya tak terhingga dan tinggal memungut begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan itu adalah kemampuan menghibur diri seperti yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan. Saya tidak malu disebut sebagai suka menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya tak boleh menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini.Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil saja, yang saya beli dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata suratnya tak juga rampung selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya setiap mengingatnya. Setiap melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta karun, melainkan malah seperti melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya buang dari pikiran. Tanah itu tetap di tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya telah berubah. Katimbang menatap tanah itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung di sekitar yang terlihat dari rumah saya. Saya suka naik ke atas rumah dan menengadah melihat langit. Waa.. dunia ini luas sekali.Begitu luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah secuil itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya bisa. Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk dipikirkan. Kalau perlu saya akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini masuk akal. Tetapi baru memikirkan keinginan ini saja hati saya sudah gembira luar biasa. Hati itu tiba-tiba terbimbing untuk menuju keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas. Hati dan pikiran itu akhirnya tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu remeh jika badingannya adalah seluruh hidup kita.Maka setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih kencang, untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh dari kehidupan.

Madam R I N I

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: .: Tentang Guru

Gerrrr….. pasti ingat deh ama Madam R I N I…, terutama “lirikan”nya. Yah..tapi sayang ndak punya biografi atau foto nih…

Mohon siapapun yang punya data, cerita, kenangan, apapun yang bisa di informasikan tentang SMA Negeri 1 dan khususnya yang berhubungan dengan angkatan 94 mohon untuk email ke operator.
Atas partisipasinya cuman bisa kasih apresiasi…

Salam dari kami Madam R I N I, jasamu tiada tara, dan gajimu ta’ ketara……

Bahasa’ 94

Posted February 28, 2008 by hio
Categories: Kelas Bahasa { A4-1 }

Hi……bahasa……..