Dengkur Seorang Istri

Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Seorang suami marah demi mendapati istrinya punya kebiasaan tidur mendengkur. “Wanita kok mendengkur,” katanya. Ia merasa berhak marah, karena dengkur bukanlah kebiasaan yang boleh dilakukan oleh para istri dan perempuan pada umumnya. Di mata suami seperti ini, istri adalah pihak yang harus selalu jelita, tidak boleh terlihat buruk rupa apalagi ada dengkur di tidurnya.
Tuntutan semacam ini bersemayam dengan sangat baik di dalam benak banyak pria, sehingga sedikit saja istri menampakkkan soal-soal yang dianggap tidak patut, suami merasa boleh kembali jatuh cinta.

Seorang istri memang memiliki tugas-tugas artistik di hadapan suaminya. Tapi jangan dikira seorang suami tidak. Jangan dikira cuma suami yang berhak terganggu oleh dengkur istri, karena istripun pasti sangat terganggu mendengar dengkur suami. Jadi, tugas artistik ini adalah kewajiban siapa saja. Konon, sebelum Roy Marten ngetop sebagai bintang film, sejak muda ia telah banyak digandrungi wanita. Ini patsi karena dia keren. Maka tugas menjadi keren adalah kewajiban siapa saja, termasuk suami di mata istri. Jadi, seorang suami yang lalai menjadi keren, harus memaklumi jika istrinya jatuh cinta lagi ke lain pria.

Tapi soal dengkur tadi pasti bukan persoalan artistik lagi. Dengkur itu pasti terjadi karena berhubungan dengan hidung. Dan hidung itu pasti bukan cuma milik laki-laki tapi perempuan juga. Bukan cuma milik suami tapi juga istri. Memaksa hidung untuk sama sekali terbebas dari dengkur sama saja dengan memaksa paru-paru terbebas dari bernafas. Ini tidak mungkin. Kenapa untuk soal-soal yang sudah jelas tidak mungkin, kita sering memaksanya menjadi mungkin.

Banyak ketidakmungkinan yang kita paksa menjadi kemungkinan cuma karena prasangka. Prasangka bawa kedudukan kita lebih mulia dibanding yang lain.
Kepada pihak lain yang keras dengkurnya kita boleh memandangnya hina, seolah-olah tidur kita telah sama sekali bebas dari dengkur serupa. Bahwa jika pun kita mendengkur, dengkur kita itu seolah-olah pasti dijamin lebih indah katimbang dengkur tetangga. Padahal dengkur adalah teman tidur siapa saja. Tak peduli pria wanita, tak menghitung diri sendiri atau tetangga. Dan saya jamin, dalam keadaan mendengkur, seluruh wajah kita, berada dalam posisi terburuknya. Keadaan tidur yang cantik, cuma ada dalam sinetron yang akting pemain-pemainnya masih jaim, yang bahkan dalam keadaan tidur pun harus tetap terlihat keren.

Jadi kenapa keburukan yang ada di dalam sendiri ini, menjadi begitu buruknya ketika sedang berada di dalam diri tetangga.
Kepada pihak yang sedang begitu masam bau keringatnya, kepadanya kita muaki sedemikian rupa seolah-olah bahwa kemasaman serupa tidak pula berada di ketiak kita. Kenapa untuk sesuatu yang jelas kita miliki, tidak boleh dimiliki pihak lainnya. Kenapa untuk sesuatu yang begini dekat, sering kita pandang begitu jauhnya. Kepada bau yang ada di dalam sendiri, seolah-oleh menjadi bau yang diharamkan ketika ia diaromakan oleh tubuh tetangga. Kepada dengkur yang juga ada di hidung kita sendiri, tiba-tiba menjadi dengkur terlarang ketika disuarakan oleh hidung pasangan kita.
Saya tidak sedang mengajak Anda bergembira mendengar suara dengkur atau menyukai keasaman keringat. Saya cuma sedang takut jika saya menjadi begitu angkuh kepada sesuatu yang seluruhnya juga ada di dalam diri saya.

Explore posts in the same categories: .: Artikel

Comment:

You must be logged in to post a comment.